Kepala Satpol Se Indonesia Kagumi Dolly Saiki

SURABAYA-  Satpol PP se-Indonesia  mengunjungi eks lokalisasi Dolly, Kamis, (10/8/2017). Kunjungan itu merupakan serangkaian acara dari Workshop Penerapan Standart Pelayanan Minimal (SPM) Subbidang Trantibum yang diselenggarakan oleh Kementrian Dalam Negeri di Garden Palace Hotel Surabaya.

Kurang lebih 50 Kepala Satpol se-Indonesia itu sangat antusias mengunjungi Dolly karena penasaran dengan berbagai perubahan yang terjadi di kawasan eks lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara itu. Mereka didampingi langsung oleh Kasatpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto, Camat Sawahan M. Yunus dan Lurah Putat Jaya Dwi Trimulyono.

Kunjungan itu dimulai dari eks wisma Barbara yang saat ini disulap menjadi pusat produksi KUB Mampu Jaya ketika membuat sandal dan sepatu khas Dolly. Diantara perwakilan Satpol PP itu ada yang membeli dan ada pula yang memesan sepatu khas Dolly itu.

Kasatpol PP Kota Surabaya Irvan Widyanto juga memberi penjelasan asal muasal wisma tersebut, termasuk ketika rombongan itu menuju lantai 2 di eks wisma Barbara itu.

Selanjutnya, mereka melihat langsung DS Point yang merupakan tempat produk-produk UKM Dolly. Di bekas wisma itu, mereka melihat berbagai produk UKM warga Dolly dan Jarak. Bahkan, mereka memborong beberapa produk UKM yang sudah tersedia di tempat itu, mereka juga mencoba Tempe Jarwo yang sudah digoreng.

Pada kesempatan itu pula, Kasatpol PP Kota Surabaya langsung bertindak cepat menggorengkan Tempe Jarwo untuk disuguhkan kepada perwakilan Satpol PP se-Indonesia. Hingga akhirnya diantara mereka ketagihan dengan tempe goreng itu dan meminta untuk dibungkuskan buat makan di jalan.

Kasubdit Operasional Direktur dan Standarisasi Satpol PP Kemendagri Agustin Sagala mengatakan sangat tertarik dengan sistem penutupan eks lokalisasi yang dilakukan oleh Pemkot Surabaya beserta jajaran samping. Sebab, setelah penutupan tidak ditinggal, melaikan sangat diperhatikan dengan dikembangkan sisi ekonomi sosialnya.

“Ini sangat menarik, karena setelah penutupan ditata semuanya, termasuk sosial ekonominya,” kata Agustinus ditemui disela-sela kunjungan.

Menurut Agustinus, sistem yang diterapkan oleh Pemkot Surabaya dalam menutup lokalisasi bisa menjadi acuan daerah lain, supaya bisa menutup lokalisasi dan bisa memberdayakannya. “Daerah lainnya harus belajar ke Surabaya untuk menutup lokalisasi,” pungkasnya. (M. Syarrafah)

Tinggalkan Komentar