Teknik Perkapalan UMG Dukung Gresik Kota Poros Maritim Indonesia

SURABAYA- Gresik memantabkan diri sebagai Kota Poros Maritim Indonesia. Pendirian Program Studi baru Teknik Perkapalan di Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menjadi salah satu alasannya.

Ali Yusa, Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia yang sekaligus pengusul berdirinya studi itu menjelaskan bahwa tanggal 9 Juni 2017, UMG menerima amanah dari Kemenristek Dikti berupa ijin Pendirian Program Studi Teknik Perkapalan yang tertulis dalam SK No. 475/KPT/I/2017.

“Harapan besar ditumbuhkan dengan dibukanya program studi ini, kebutuhan SDM di bidang maritim akan terpenuhi,” Ali Yusa kepada bicarasurabaya.com, Rabu, (6/9/2017).

Menurut Ali, pelabuhan Gresik sudah dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bahkan, pada abad ke-XIII, Gresik menjadi pelabuhan besar. Pada zaman Kerajaan Islam, Gresik mulai menjelma menjadi pusat perdagangan di Nusantara. Letaknya yang terlindung oleh Selat Madura, menjadikannya strategis sebagai pelabuhan.

“Letak yang strategis ini, menarik perhatian kapal-kapal dari berbagai negeri untuk singgah di bandar ini,” ujar Dosen UMG teknik perkapalan ini.

Selain itu, Gresik berada di bawah pengaruh Giri, tempat Sunan Giri yang merupakan salah satu Walisongo dan keturunannya menyebarkan ajaran islam melalui jaringan perdagangan. Penyebarannya adalah ke wilayah timur Nusantara dan menjadi poros maritim Nusantara.

Kejayaan Gresik pada jaman tersebut akan terulang, hal ini di tandai dengan tumbuhnya galangan kapal di wilayah Gresik. Pertumbuhan lalu lintas bongkar muat di pelabuhan tersebut meningkat, bahkan dikutip dari data PT. Pelindo III Cabang Gresik tahun 2016 tercatat bahwa arus barang menanjak 584% dalam satuan ton.

“Jelas pertumbuhan ini juga harus ditunjang dengan pembangunan sumber daya manusia yang ada di Kota Gresik dan sekitarnya,” kata dia.

Oleh karena itu, studi baru dibentuk untuk menyiapkan generasi muda Gresik dan Jawa Timur bagian utara untuk ikut membangun kejayaan maritimnya kembali. Menyelenggarakan pendidikan berbasis maritim yang tepat dan sangat dibutuhkan di wilayah tersebut, mengingat saat ini Indonesia sedang berjuang kembali menjadi poros maritim dunia.

Program Studi Teknik Perkapalan di UMG ini juga didukung dengan tersedianya juga galangan kapal non baja, yang nantinya dapat di gunakan oleh mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk ikut belajar dan melakukan penelitian serta menyediakan sarana armada pemersatu Indonesia melalui Infrastruktur kapal.

Direktur Kesatuan Penjaga Laut  dan Pantai Direktur Jenderal (Ditjen) Hubungan Laut Kementrian Perhubungan (Kemenhub) Triyuswoyo menjelaskan bahwa masyarakat transportasi indonesia mencatat tenaga kerja di industri pelayaran baru terpenuhi 1.500 orang dari kebutuhan 7.000 orang per tahun.

"Makanya, SDM maritim yang andal dibutuhkan untuk pembangunan ekonomi maritim. Hanya, kesiapan SDM di bidang kemaritiman justru kritis," katanya.

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto
Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar