32 Tahun Berjualan Es Puter, Kirman Bangga Jadi Bos Sendiri

SURABAYA- Kirman (52) penjual es puter keliling asal Surakarta berjalan keliling sambil mendorong gerobak esnya, itulah pekerjaannya setiap hari yang sudah dilakoni sejak 32 tahun yang lalu.

Pria perawakan kulit sawo matang ini, menekuni berjualan es puter keliling meskipun tak banyak keuntungan yang ia dapat. Es puter merupakan jajanan tradisional berbahan dasar santan. Cara pembuatannya pun cukup mudah, hanya mengaduk secara terus menerus bahan santan, susu dan gula di dalam tabung hingga membeku.

Berkeliling dari rumah kontrakannya di daerah Pulo Wonokromo, ia berjalan kaki menjajakkan esnya di sekitaran Wonokromo. Ia lebih memilih untuk berjalan kaki dibandingkan menggunakan sepeda kayuh.

Dengan memakai gerobak berwarna merah dengan paduan cat kuning, serta payunh warna pink yang mencolok, menjadikan gerobak Kirman ini terlihat 'unik'. “Lebih enak seperti ini, kalau ada orang yang memanggil mau beli, saya langsug bisa kembali, tidak terlalu jauh,” kata Kirman kepada bicarasurabaya.com, Jumat (8/9/2017).

Penghasilan yang ia dapat setiap harinya tak menentu, setiap satu tabung es habis ia mendapat uang sebesar Rp 100 ribu. Ia mengaku satu tabung esnya bisa laku selama dua hari, itu pun tidak sering. "Kalau musim panas gini, satu tabung es paling cepat laku dua hari. Nggak mesti lakunya, ya ditelateni aja," terangnya.

Baca juga: Es Puter Menantang Zaman dari Gempuran Es Krim Modern

Sejak tahun 1985, ia memutuskan untuk berjualan es puter di Surabaya. Jauh dari kotanya, Kirman memilih berjualan es karena ia mengaku tak suka kerja disuruh-suruh. Ketika mengerjakan pekerjaan tak sesuai keinginan bos, ia selalu kena marah atasannya.

"Sebelumnya, saya pernah kerja di pabrik di Kota Medan. Saya nggak suka dimarahi, padahal saya udah kerja sesuai yang diminta dia. Yaudah saya memutuskan jualan es, saya tekuni aja," ungkapnya.

Keuntungan yang tak menentu dari berjualan es ini, ia mengaku menerima apapun resikonya. Karena menurutnya, ini merupakan pilihannya. Menjadi bos sendiri dalam pekerjaannya.

"Mau dapat untung sedikit atau banyak ruginya kan resiko saya sendiri, nggak bakal dimarahi. Kan saya bosnya sendiri," terang Kirman sembari tertawa.

Es puter yang kian sepi peminat karena menjamurnya es modern di kota, tak menjadikannya pantang untuk meneruskan usaha ini. Baginya, rejeki sudah ada yang mengatur tinggal bagaimana orang tersebut berniat untuk melakukan usaha.

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto
Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar