Risma dan Arek-arek Suroboyo Mengenang Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato

SURABAYA- Pemerintah Kota Surabaya menggelar kembali refleksi perobekan bendera merah putih di Hotel Yamato (Hotel Majapahit), pada 19 September 1945 silam. Refleksi itu diikuti oleh semua elemen untuk mengenang perjuangan arek-arek Suroboyo saat momen itu.

Hadir pada saat itu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M. Iqbal, Kasgartap III Surabaya, Danrem 084/Bj, Kajari Tanjung Perak, Para Veteran dari LVRI, Kapolres Tanjung Perak, dan perwakilan pelajar dari jenjang SD-SMA di Surabaya.

Hampir semua yang hadir pada saat itu mengenakan pakaian pejuang terdahulu. Para pemeran teatrikalnya pun sangat menjiwai, sehingga suasana seakan kembali pada masa tahun 1945 silam, suasana dimana arek-arek Suroboyo berjuang merobek bendera di Hotel Majapahit itu.

Dalam ceritanya, dulu warga Belanda dan para tentaranya setiap Bulan September merayakan bulan Ratu Wilhelmina Belanda. Saat itu beberapa tentara Belanda yang dipimpin oleh Mr Ploegamen bediri di depan Hotel Yamato dengan sikap angkuh mengatakan "Bulan September adalah Bulan Ratu kita, Ratu Yuliana, ayo kita rayakan bersama, kita kibarkan bendera kita," teriak mereka sambil tertawa angkuh.

Mr Ploegamen yang saat itu tak menghormati rakyat Indonesia dengan semena-mena mengibarkan bendera merah putih biru tanpa meminta ijin Pemerintahan Republik Indonesia Daerah Surabaya. Ia pun memasangnya di tiang sebelah utara Hotel Yamato.

Tak terima dengan sikap arogan para tentara Belanda, arek-arek Suroboyo mengigatkan mereka untuk menurunkan bendera tersebut.

"Cik, kurang ajare arek londho iki, wani ngibarno Abang Putih Biru ndek Bumi Suroboyo," kata salah satu warga yang mencoba untuk mengingatkan tentara Belanda.

"Hei, Indonesia saiki wes merdeka. Hei londho-londhoo, Indonesia saiki wes merdeka, ndukno benderamu iku," teriak para pejuang.

Tak terima dengan perlakukan para tentara Belanda, arek-arek Suroboyo datang sili berganti, sambil berteriak merdeka..merdeka.. dan tumpahlah amarah arek-arek Suroboyo yang ingin menurunkan bendera merah putih biru tersebut.

Amarah arek-arek Suroboyo semakin memuncak ketika Mr Ploegamen menodingkan pistol kepada pemimpin Residen Sudirman, dan ditendangnya pistol milik Ploegaman oleh Cak Sidik dan terjadi perkelahian.

Arek-arek Suroboyo kemudian mengambil tangga dan melakukan penyobekan bendera berwarna biru yang menyatu dengan bendera merah putih biru. Dan dilemparkannya warna biru ke tanah dan diganti dengan warna merah putih dan kembali dinaikan oleh Arek-arek suroboyo.

Reporter: Deni Prastyo

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar