Tilang Elektronik dan Asa Bahagia di Jalan

SURABAYA- Ada kalimat bijak berbunyi begini “rumah dan tempat kerja itu dua ‘terminal’ yang paling lama kita singgahi. Bila kita bahagia di dua tempat itu, hidup kita bahagia”.

 Benarkah? Saya memilih mengamininya. Meski menurut saya, ada satu lagi tempat yang dalam sehari, juga lama kita singgahi. Tempat ketiga itu: jalanan. Anda yang bekerja atau studi di luar rumah, tentunya akrab dengan jalanan.

Dan, untuk bisa bahagia di rumah dan tempat kerja, seharusnya lebih mudah dibanding bahagia di jalan. Di rumah dan tempat kerja, kita bergaul dengan orang-orang yang kita kenal baik. Kita tahu karakternya dan kita bisa bahagia bersama mereka. Sementara di jalan, kita sering bertemu orang-orang yang perilakunya aneh bin ajaib.

Di jalan, kita terbiasa mendapati orang-orang yang hobi melanggar lampu merah, ngebut layaknya tengah berkendara di sirkuit, atau mereka yang lampu sein kendaraannya nyala ke mana dan beloknya ke mana. Atau juga mereka yang gemar melintas di atas pedestrian karena menganggapnya bak jalur tol bebas macet.

Pendek kata, ada banyak orang egois di jalan. Yang penting dirinya cepat sampai tujuan. Urusan keselamatan orang lain dan fasilitas publik yang rusak, itu nomor kesekian. Ah, bila begitu, kapan asa bahagia di jalan bisa tercapai? 

==

Awal September 2017 lalu, Pemkot Surabaya melalui Dinas Perhubungan, mulai melakukan uji coba tilang elektronik alias E-tilang menggunakan Close Circuit Television (CCTV) di beberapa titik jalan yang terintegrasi Surabaya Intelegence Transport System (SITS). Pendek kata, pelanggaran lalu lintas kini bisa dimonitor dengan kemajuan sistem teknologi informasi.

Konon, CCTV untuk E-tilang ini beda dengan yang biasa dipakai untuk pemantauan lalu lintas. Berbeda dan lebih pintar karena bisa melakukan tindakan dan analisa. jenis pelanggaran dengan merekam plat Nopol kendaraan. Semisal ada pengendara melebihi batas garis berhenti saat lampu merah, kendaraan nya akan di-capture sehingga beberapa foto terekam dan ketahuan Nopol kendaraannya.

Pelanggar lalu menerima surat pemberitahuan pelanggaran yang diantar ke rumah oleh petugas. Surat tersebut tertulis nama pemilik kendaraan yang melanggar, Nopol dan jenis kendaraan yang dipakai pengguna, serta pasal yang dilanggar. Karena masih uji coba, surat pemberitahuan pelanggaran itu sebatas sosialisasi. Belum ada penindakan.

Rencananya Oktober nanti, kedatangan petugas ke rumah warga, bukan lagi untuk woro-woro. Tapi mengirimkan surat tilang. Petugas juga akan memberikan bukti pelanggaran dalam bentuk foto. Namun, masyarakat masih punya hak tolak bila ternyata kendaraan yang dipakai melanggar itu bukan lagi milik mereka.

Sebenarnya, untuk apa penerapan tilang elektronik?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, penting diketahui, ide awal inovasi ini dipicu banyaknya pengguna jalan yang abai pada aturan lalu lintas dan menjadi penyebab tingginya kecelakaan di jalanan Surabaya. Dan itu terjadi di jalanan yang umumnya sepi dan tidak ada petugas yang berjaga. Nah, dengan adanya E-tilang, secara psikologis, pengguna jalan akan merasa diawasi. Sehingga, keinginan untuk bertingkah “sak karepe dhewe” di jalan, bisa dikurangi. 

Memang, muncul pro kontra. Ada yang mendukung. Ada yang nyinyir. Malah ada yang berujar absurd. Seperti bila nopol kendaraan si pelanggar dari luar kota atau bahkan luar pulau, bagaimana pengiriman surat tilangnya. Ada juga opini, E-tilang bakal merugikan pihak rental mobil karena bila ada pelanggaran, maka yang terkena tilang adalah pemilik kendaraannya. Bahkan, ada yang menyebut tilang elektronik ini untuk mencari-cari kesalahan pengguna jalan.

Ah, kalau mau nyari-nyari celah aturan, mungkin ada celahnya. Kalau tergoda pikiran nyinyir, yang dipikirin hanya sisi negatifnya. Akhirnya, malah muncul opini buruk bahwa aturan baru tersebut merugikan dan sejenisnya.

Tentu saja, berpikir kritis itu boleh. Namun, menyikapi e tilang ini, yang perlu dikedepankan sejatinya bukan kenyinyiran. Kita hanya perlu kembali pada pertanyaan di atas. Bahwa, tujuan aturan baru ini agar masyarakat lebih tertib berlalu lintas demi mengurangi kecelakaan di jalanan. Tetapi memang, untuk bisa move on dari kebiasaan lama, bukanlah hal mudah.

Sampean pernah dengar nama Peter Michael Senge? Orang Amerika bergelar Phd dari Stanford University ini punya minat besar menyoroti perilaku manusia. Dalam salah satu buku nya, The Dance of Change, Senge menyebut masyarakat sejatinya tidak alergi pada perubahan. Hanya saja, mereka cenderung sulit untuk berubah. "People don't resist change. They resist being changed!". Begitu kata dia.

Dan yang terjadi memang seperti itu. Dengan dalih kebiasaan, banyak dari kita yang sulit untuk diajak berubah. Berubah menjadi lebih baik. Salah satu dari kebiasaan lama itu, tidak sedikit dari kita yang kepatuhan berlalu lintas, hanya ketika ada petugas. Patuh karena takut ditilang. Bila tidak ada petugas, berani melanggar.

Nah, dengan diterapkannya tilang elektronik ini, pengguna jalan akan “dipaksa” mulai belajar berubah jadi lebih tertib. Mungkin awalnya mau berubah karena terpaksa. Mungkin awalnya mau berubah karena (bila melanggar) takut direkam kamera dan kena tilang elektronik. Namun, lama-kelamaan, keterpaksaan dan rasa takut itu akan berubah menjadi budaya tertib. Kita akan terbiasa tertib di jalan--ada atau tidak ada petugas.

Saya selaku pengguna jalan, kini mulai merasakan ada perubahan di jalanan Surabaya. Semisal ketika traffic light berwarna merah, ada banyak pengguna jalan kini tertib berhenti di belakang garis. Padahal beberapa bulan lalu tidak seperti itu. Sosialisasi tilang elektronik melalui pemberitaan masif di media massa, rupanya sedikit banyak telah berhasil mengubah perilaku pengguna jalan.

Pada akhirnya, bila tertib di jalan telah membudaya, ketika kita sadar ada aturan dan ada hak orang lain yang tidak boleh dilanggar, jalanan akan jadi tempat yang bikin bahagia, bukan bikin stress atau marah-marah. Tak ada lagi yang menyerobot traffic light karena sabar menunggu lampu berganti warna hijau. Tak ada lagi yang ngebut di jalan karena tahu itu membahayakan diri, terlebih orang lain. Juga tidak ada lagi pengguna jalan yang latah mengambil hak pejalan kaki di pedestrian. Bila sudah begitu, bahagia di jalan itu bukan lagi sekadar mimpi tak kesampaian.

 

Penulis: Hadi Santoso, penulis buku dan mantan wartawan yang masih istiqomah menulis.

Tinggalkan Komentar