Nyeri Punggung Mengancam Masyarakat Modern Perkotaan, Ini Tips Mengobatinya

SURABAYA- Perilaku dan gaya hidup modern  pada sebagian besar masyarakat modern perkotaan ternyata berpotensi meningkatkan resiko terkena nyeri punggung. Perilaku ini disebabkan oleh lebih banyak duduk dan sedikit bergerak diantaranya aktivitas di depan komputer, menonton televisi, bermain game serta  mengemudi kendaraan dalam jangka waktu lama dan berbagai perilaku lainnya.

Itulah kajian utama dalam Regional Spine Meeting yang digelar oleh Departemen Bedah Saraf Fakultas Fedokteran Unair di salah satu hotel di Surabaya. Acara ini diikuti oleh puluhan Dokter Bedah Saraf dari dalam dan luar negeri. Mereka berbagi pengalaman dan pengetahuan terbaru terkait penanganan  keluhan  tulang belakang.

Pembicara dalam acara ini adalah para pakar dan dokter spesialis bedah saraf papan atas dari dalam dan luar negeri,  diantaranya dari Indonesia  adalah Prof. DR.dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp. BS (K)Spine, Dr. Dr. Eko Agus Subagyo, Sp. BS (K) Spine dan dr. Muhammad Faris, Sp. BS. (K)Spine. Sedangkan  narasumber  dari luar negeri adalah Prof. DR. Dr. P S Ramani dari India.

Dalam paparanya, Prof. Hafid menjelaskan Keluhan nyeri punggung merupakan keluhan yang paling sering dialami manusia. Menurut Guru Besar FK Unair dan  pendiri Surabaya Neuro Science institute (SNei) ini, pada daerah punggung terdapat tulang belakang dengan bantalan sendi dan persendian antar tulang, saraf, otot-otot, ligamen. Masing-masing organ itu mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam menimbulkan rasa nyeri.

“Berdasarkan keluhan nyeri itulah dokter dapat menentukan penyebab gangguannya kira-kira ada di organ mana,” kata Prof Hafid dalam paparannya.

Ditambahkan oleh Dr. dr. Eko Agus Subagyo, Sp. BS(K) Spine, staf pengajar senior bedah di Departemen Ilmu Bedah Saraf FK Unair yang juga penanggung jawab Surabaya Spine  Clinic, menjelaskan bahwa penyebab nyerinya tulang punggung disebabkan beberapa hal diantaranya karena posisi tubuh saat bekerja yang kurang benar, trauma karena jatuh, sehabis angkat barang berat atau kecelakaan,

Selain itu, proses degenerasi karena usia, infeksi tulang belakang, tumor tulang belakang, osteoporosis, stres, kegemukan, pemakaian obat corticosteroid, penjepitan urat saraf karena bantalan sendi atau gangguan dari dalam perut yang rasa nyerinya menjalar ke pinggang.

Sementara itu, Dr. Muhammad Faris Sp. BS (K) Spine dari PHC Neuroscience Brain & Spine Care Center membagikan beberapa tips mencegah nyeri punggung diantaranya adalah latihan  peregangan otot-otot pinggang, penguatan oto-otot pinggang dan otot dinding perut.

Bahkan, ia juga meminta pada waktu mengangkat barang harus dengan badan tegak, kedua lutut ditekuk lalu barang tersebut diangkat sedekat mungkin ke badan.

“Penderita nyeri punggung tidak perlu khawatir biaya untuk berobat ke dokter karena sebagian sudah tercover layanan  BPJS,” ujarnya.

Berdasarkan paparan dari para pemateri itu, menunjukkan perkembangan Pengobatan Nyeri punggung di Indonesia sudah sangat maju dan tidak kalah dengan pengobatan di luar negeri.

Bahkan, beberapa pasien dari luar negeri memilih untuk berobat ke Indonesia karena tersedianya dokter ahli dan fasilitas yang lengkap dalam penanganan keluhan nyeri punggung dengan biaya yang relatif lebih murah, diantaranyaseperti yang saat ini dikembangkan oleh Surabaya Neuro Science Institute (SNei).

Reporter: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar