Kisah Magimin, Habiskan Separuh Hidupnya di Pabrik Kerupuk

SURABAYA- Magimin (53) asal Yogyakarta, pria paruh baya ini merupakan salah satu pegawai di pabrik penggorengan kerupuk di Jl. Medokan Semampir AWS II Surabaya.

Memutuskan merantau ke Kota Pahlawan sejak 25 tahun silam, Magimin mulai bekerja di Kota Pahlawan sebagai pembuat kerupuk. Keterbatasan keterampilan menjadi alasannya mengapa bertahan di pabrik ini.

"Sejak tahun 1992 saya merantau ke Surabaya, langsung kerja di tempat ini. Mau gimana lagi nggak ada keterampilan lain," kata Magimin ditemui disela-sela menggoreng kerupuk.

Paruh usia ia habiskan untuk bekerja di sini, dari pagi hingga petang ia habiskan waktunya untuk bekerja. Pukul 06.00 WIB, ia sudah mulai berkeliling untuk menjajakan kerupuk di warung-warung dan pasar.

Berkeliling menggunakan sepeda harus ia lakoni setiap hari, berkeliling dari warung ke warung hingga ke pasar. "Kalau pagi saya keliling naik sepeda, dari warung ke warung. Bawa plastik besar berisi kerupuk di keranjang belakang," imbuhnya.

Sudah 25 tahun ia bekerja di sini, dari membuat kerupuk hingga memasarkannya. Dua tahun terakhir, ia sudah tidak memproduksi kerupuknya. Ia hanya menggoreng dan memasarkannya saja.

Ia mengaku penghasilan yang ia dapat sehari-hari sudah bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya, bahkan bapak dua anak ini mampu membiayai pendidikan kedua anaknya hingga tamat SMA.

"Alhamdulillah penghasilannya bisa buat bayar sekolah anak saya sampai SMA," ujarnya.

Bahkan, lamanya ia mengadu nasib di Surabaya hingga 25 tahun ini, ia sampai memiliki anak cucu di kota ini. Ia pun jalani pekerjaan itu dengan sepenuh hati hingga saat ini.

 

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar