Selembar Kertas “Cinta” dari Sopir Angkot untuk Pakde Karwo dan Bude Risma

SURABAYA- Sopir angkot di Surabaya kembali bergejolak. Mereka kembali memprotes keberadaan angkutan berbasis online yang terus mengakar di Kota Surabaya.

Protes semacam ini sudah pernah dilakukan dan berhasil diredam oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol M. Iqbal.

Kali ini, mereka kembali protes dengan menempelkan selembar kertas “cinta” di kaca bagian belakang angkot. Seakan mereka mengirimkan pesan untuk pemerintah, terutama untuk Gubernur Jawa Timur Soekarwo (Pakde Karwo) dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Bude Risma).

Pesan yang disampaikan melalui tulisan di kertas itu pun berbeda-beda, yang paling unik adalah memohon kepada Pakde Karwo dan Bude Risma untuk menghentikan dan menghapus aplikasi online itu.

“Pakde Karwo dan Bude Risma, mohon hentikan, hapus aplikasi online, itu semua telah merampok hak dan rejeki kami, tidak sesuai dengan sila II Pancasila. Komunitas Angkutan Kota Surabaya,” demikian tulisan di selembar kertas yang ditempel di kaca samping lyn S.

Selain itu, ada pula tulisan "Kami butuh langkah Pemerintah. Jangan sampai kami terlalu jauh melangkah."

Mereka juga mengaku cinta kepada Indonesia, dan aplikasi itu adalah milik bangsa asing. Begini tulisan di kaca belakang lyn itu.

“Kami cinta Indonesia, aplikasi milik bangsa asing”. Tulisan itu berjajar dengan kalimat: “Angkutan aplikasi beroperasi, angkutan kota semakin sulit”.

Bahkan, di angkot lain mereka menuliskan sebuah kalimat berbunyi: “Kami jangan diadu dengan sesama bangsa sendiri.....aplikasi milik asing.....bukan milik bangsa Indonesia.....”

Dari berbagai pesan yang disampaikan itu, jelas mereka memprotes angkutan berbasis online karena dinilai mengurangi penghasilan para angkot.

Reporter: M. Syarrafah

3 Komentar

  1. Mohon pemerintah kota Surabaya menindak tegas aksi para sopir angkot yg meresahkan masyarakat sekarang ini dengan aksinya yg terbilang kurang tepat. Menurut saya kemajuan teknologi tetaplah harus diterima dan tidak bisa dihindari. Mengenai aplikasi bangsa asing yg dipermasalahkan oleh sopir angkot, itu hanya sebuah dalih untuk menutupi keburukan mereka yg pada dasarnya malas & tidak mau berusaha, hanya mau ongkang-ongkang kaki di warkop nunggu penumpang, ngetem, berhenti mendadak, dsb.

    Setelah saya survey teman-teman saya, semuanya menyatakan lebih suka menggunakan jasa aplikasi online daripada jasa angkutan konvensional. Setelah saya tanya lebih lanjut, banyak alasan yg menarik dari mereka semua. Berikut alasannya :

    - Lebih ekonomis
    - Lebih murah mudah trus banyak promo juga
    - Lebih privasi dan bisa muat barang buanyak
    - Kita ga perlu nunggu kendaraan umum di pinggir jalan
    - Bisa sewaktu-waktu order tanpa perlu menunggu lama sopir angkot lewat
    - Bisa tau tarif yg pasti, karena kalau tau mahasiswa baru tarifnya dimahalin
    - Ngga ribet krn lngsung smpe di tujuan ngga naik turun lg baru smpe tujuan
    - Yang paling penting dan paling utama. Driver online ga rese kalo kita mau mampir2, mau turun dimanapun, atau pas kita banyak tingkah
    - Karena mudah, cepat dan menyenangkan hahah
    - dsb

    Besar harapan saya bersama teman-teman agar angkutan online tetap dipertahankan, dan sebaliknya angkutan konvensional ditiadakan atau di alih profesikan menjadi sopir angkutan online juga. Sekian dan terima kasih.

  2. Apa perlu angkot juga dikasih aplikasi?. Soalnya kadang angkot juga suka parkir sembarangan atau malah ga ngelayanin penumpang dengan baik, makannya banyak yang beralih ke gojek. Senadainya supir2 angkot ga banyak tingkah, dikit2 ngomel soal macet, atau ga belok atau nyalip seenak jidat, pasti langganannya ga pada lari. Wong notabene angkot itu ga sepanas naik ojek

  3. yaudah, hbis ini pakai go-car aja..kn msih buatan bangsa sendiri bkn asing, blue bird jg

Tinggalkan Komentar