Kisah Yudi, Bos Sopir Angkot yang Akhirnya Bingung Cari Makan

SURABAYA- Suasana Terminal Bratang Surabaya ramai dipadati oleh angkutan umum, angkutan-angkutan itu berderet menanti penumpangnya.

Diantara deretan angkutan itu, nampak sebuah angkot yang di dalamnya terdapat laki-laki paruh baya sedang sibuk mengotak-atik angkotnya. Yudi (56) merupakan salah satu sopir angkot yang ada di terminal tersebut.

Bapak tiga anak ini sebelumnya adalah seorang pegawai di sebuah perusahaan, ia memilih keluar dari tempat itu karena istrinya juga bekerja di tempat yang sama. Peraturan perusahaan yang tidak membolehkan pasangan suami istri dalam satu perusahaan, membuat Yudi memutuskan untuk berhenti bekerja.

Ia pun beralih menjadi sopir angkot lyn S jurusan Joyoboyo-Bratang-Kenjeran demi memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya. Baginya menjadi sopir akan lebih mendapatkan keuntungan.

"Saya dulu kerja di sebuah perusahaan, tapi karena istri saya satu kantor akhirnya saya yang mengalah untuk keluar. Saya memilih jadi sopir angkot, dulu pendapatannya lebih dari cukup," terang pria asal Surabaya ini.

Pekerjaan ini sudah ia lakoni selama 15 tahun, jarak 23 km harus ia tempuh untuk sekali jalan di trayek tersebut. Ia juga mengaku dari pendapatannya itu, ia akhirnya berhasil membeli dua unit angkot, sehingga dia sempat jadi bos angkot.

"Saya punya angkot sendiri, setiap pendapatan saya tabung buat beli angkot biar gak perlu setor ke pemilik," imbuhnya.

Namun, beberapa tahun terakhir ia mengaku pendapatannya menurun drastis. Banyaknya angkutan berbasis online menjadi alasannya mengapa pendapatan yang ia peroleh menurun drastis.

Bahkan, saat ini untuk membeli makan saat bekerja saja ia harus berpikir dua kali, apakah uang yang ia dapat akan cukup untuk keluarganya. Dulu saat angkot masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat untuk berpergian, ia tak perlu bingung untuk membeli makan saat ia bekerja.

"Dulu saya nggak perlu bingung buat makan dimana, tinggal pilih saja. Sekarang saya harus mikir lagi buat makan di luar rumah, akhirnya sekarang saya harus pulang ke rumah saya di daerah Masjid Agung hanya untuk makan," keluhnya sembari membereskan angkotnya.

Ia mengeluhkan berbagai kisah bagaimana pendapatan yang ia peroleh menurun drastis semenjak keberadaan angkutan online, ia berharap pemerintah memberikan keadilan terhadap masalah ini.

 

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar