Lestarikan Budaya Indonesia, Pelajar SD di Surabaya Dilatih Batik Colet

SURABAYA- Dosen Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra (UK) Petra melakukan pelatihan kepada 28 siswa dan 2 guru di SD KIP 156 Somolawang Surabaya, Jumat (29/9/2017).

Mereka akan melanjutkan batik colet yang telah dicantingnya beberapa waktu lalu. Pada hari ini, mereka akan melakukan enam tahapan lanjutan dari membuat sebuah batik colet.

Tahapan-tahapan itu adalah mencolet pewarna dengan kuas, kemudian dicelupkan dalam cairan fix (untuk mengunci warna), dijemur setengah kering, merolod malam menggunakan air mendidih, membilas dengan air bersih kemudian dijemur.  

Aniendya Christianna, dosen Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen (UK) Petra yang turut memotori acara itu mengatakan pelatihan batik colet ini diberikan sejak dini agar budaya asli Indonesia dipahami dan tidak hilang.

“Batik merupakan sebuah karya budaya bangsa Indonesia yang wajib diwariskan turun temurun pada anak cucu agar tidak musnah atau dimiliki oleh bangsa lain,” kata Aniendya dalam siaran persnya yang diterima bicarasurabaya.com.

Menurut Aniendya, dipilihnya batik colet karena belum banyak diketahui masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan target kegiatan siswa-siswi SD dan umumnya. “Hal ini juga sesuai dengan karakteristik watak masyarakat Surabaya yang tegas, tidak sabaran dan lugas,” tegasnya.

Program ini pun telah mendapatkan dana hibah dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) senilai Rp 40 juta yang diberikan kepada tiga dosen UK Petra.

Ketiganya adalah Dr. Laksmi Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds., Dra. Sriti Mayang Sari., M.Sn dan Aniendya Christianna, S.Sn., M.Med.Kom. Ketiganya merupakan dosen Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra.

“Melalui praktek langsung membatik, maka diharapkan para siswa SD akan mampu menemukan bakat, mengembangkan keterampilan, kreativitas serta dapat menyaksikan secara langsung implementasi pelajaran seni secara jelas. Kami tidak memaksakan para siswa harus membuat motif tertentu, terserah mereka ingin berkreasi seperti apa,” kata Dr. Laksmi Kusuma Wardani, S.Sn., M.Ds, salah satu dosen lainnya.

Reporter: Reiffia S Dwiyoto

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar