Jeritan Hati Penjual Kincir Angin Kertas Setelah 43 Tahun Merantau di Surabaya

SURABAYA- Taman (78) menghabiskan paruh hidupnya di jalanan Surabaya, mengayuh becaknya dan berjualan mainan kincir angin kertas di Jalan Kertajaya Surabaya.

Sejak tahun 1974, ia mulai merantau di Kota Pahlawan lantaran rumahnya tergusur oleh proyek bendungan. Ia tak memiliki tempat tinggal, hanya plastik besar menjadi alasnya untuk tidur di atas trotoar.

"Ket biyen yo ngene iki turuku, nang sebelahe becak nggawe alas plastik (dari dulu ya begini tidur saya, di sebelah becak pakai alas plastik)," kata Taman sembari menunjukkan plastik alas tidurnya itu, Rabu (18/10/2017).

Baca juga: Masih Ingat Kincir Angin Kertas? Mainan Jadul Ini Semakin Ditinggal Peminatnya

Merantau sejak 43 tahun silam, membuatnya tak pernah sekalipun pulang untuk menemui keluarganya. Bahkan, komunikasi lewat telepon pun tak pernah ia lakukan, sehingga dia tidak tahu kabar keluarganya.

Taman mengaku tidak punya uang untuk pulang, apalagi saat ini upah dari berbisnis kincir angin kertas dan menarik becak semakin menipis, bahkan tidak ada. Makanya, makan pun sering hutang ke warung.

"Gimana bisa pulang Nak, uangnya nggak ada. Ongkos bis sekarang mahal, apalagi kereta," imbuhnya.

Baca juga: Perjuangan Penjual Kincir Angin Kertas Mencari Sesuap Nasi

Sehari-ia ia hanya mampu mendapatkan uang yang pas-pasan, sesekali ada orang yang sengaja memberinya makan ataupun uang. Ia berharap dapat uang lebih untuk ongkosnya pulang ke Desa Karangkates, Malang, ia ingin bertemu keluarganya yang sudah ia tinggal tanpa kabar sejak lama itu.

"Sakjane aku pengen muleh Nak, kangen keluargaku (sebenarnya aku ingin pulang, kangen keluargaku). Lek onok ongkos aku pasti muleh, wes kangen (kalau ada ongkos aku pasti pulang, sudah kangen)," tegasnya sembari mengusap air matanya yang mulai menetes itu.

 

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar