Dewan Minta Pemkot Surabaya Kaji Ulang Tetenger Baru di Bundaran Waru, Kenapa?

SURABAYA- Ketua Komisi A DPRD Kota Surabaya Herlina Harsono Njoto meminta kepada Pemkot Surabaya untuk mengkaji ulang pemasangan tetenger baru di Bundara Waru. Sebab, posisinya kalah mencolok dibanding iklan rokok yang ada di samping kiri dan kanannya.

“Lha, tetenger kok malah kalah mencolok dengan keberadaan reklame rokok yang persis ada di sebelahnya. Harus dikaji ulang itu,” kata Herlina kepada bicarasurabaya.com, Minggu (22/10/2017).

Menurut Helina, awalnya dia sangat senang dengan adanya tetenger baru yang dipasang di Bundaran Waru. Sebab, usulannya dapat direalisasikan oleh Pemkot Surabaya untuk membuat penanda batas kota di sekitar Bundaran Waru, yang membatasi Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya.

Namun, setelah tahu bentuk dan kondisi tetenger baru itu, ia amat menyayangkan, karena kalah mencolok dengan iklan rokok. Politisi Partai Demokrat ini hanya tidak ingin Pemkot Surabaya dinilai setengah hati oleh masyarakat dalam menangani dan membuat tetenger itu.

“Tetenger itu termasuk salah satu wajah Kota Surabaya, jangan sampai masyarakat melihat bahwa Pemkot setengah hati menangani masalah tetenger sampai harus memasang reklame di sebelah iklan rokok itu,” tegasnya.

Tetenger baru yang dipasang di Bundaran Waru itu bertuliskan “Sparkling Surabaya”. Lokasinya berada di sisi selatan Bundaran Waru, jika dari arah Sidoarjo menuju Jalan Ahmad Yani akan terlihat.

Tulisan itu sangat unik. Kata “Sparkling” menggunakan warna kuning dengan tulisan ciri khas brand Surabaya.  Sedangkan “Surabaya” menggunakan huruf kapital berwarna merah serta setiap dua hurufnya disusun ke bawah, sehingga menambah keunikan dari ikon baru itu.

Sayangnya, tetenger itu seakan diapit oleh dua reklame besar, sehigga tetengernya kurang jelas dibanding dua reklame besar di sampingnya. Para pengendara hingga anggota dewan pun mengeluhkan pemasangan itu, sehingga Komisi A DPRD Surabaya tegas meminta kepada Pemkot Surabaya untuk mengkaji ulang pemasangan tetenger itu.

Reporter: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar