Menengok Pabrik Siropen, Minuman Legendaris Surabaya Peninggalan Belanda

SURABAYA- Kota Surabaya yang merupakann Kota Pahlawan, menyimpan sejuta sejarah tentang penjajahan kolonial Belanda. Terbukti dengan banyaknya bangunan tua yang masih selalu terlihat di beberapa titik di kota ini.

Salah satunya di Kota Tua Surabaya. Daerah ini seakan menjadi saksi bisu zaman penjajahan di masa lampau, karena arsitektur bangunannya khas Belanda, dan banyak berjajar di berbagai sudut di kawasan ini.

Selain bangunan-bangunan peninggalan Belanda yang ada di kota tua itu, terdapat pula salah satu tempat produksi dan pemasaran salah satu minuman bersejarah peninggalan Belanda.

Ya, namanya Pabrik Siropen Telasih yang berada di Jl. Mliwis No. 5, Surabaya. Pabrik ini merupakan pabrik minuman lengendaris khas Surabaya yang ada sejak tahun 1923 silam. Pabrik ini dibangun oleh  JC Van Drongelen Hellfach yang asli orang Belanda.

"Pabrik ini sudah ada sejak 1923 silam,  JC Van Drongelen Hellfach yang mendirikannya," terang L. M Alfian marketing perusahaan ditemui bicarasurabaya.com di pabriknya, Senin (23/10/2017).

Bangunan bergaya Eropa kuno ini masih sama seperti dulu, hanya terdapat beberapa renovasi saja. Nampak pada sisi luar bangunan yang bertuliskan, "Pabrik Limoen  JC Van Drongelen Hellfach".

Di luar pabrik ini, akan disambut oleh arsitektur khas Belanda dengan 4 pilar besar yang menyangga bangunan ini. Masuk ke dalamnya, interiornya pabrik ini akan membuat pengunjungnya berada di zaman dulu.

Sejak tahun 1962, pabrik bersejarah ini diambil alih oleh Pemprov Jatim yang kemudian pada tahun 2002, pabrik ini dikelola oleh PT. Pabrik Es Wira Jatim yang kini berganti nama menjadi PT. Moya Kasri Wira Jatim.

Bangunan yang menjadi cagar budaya Pemkot Surabaya ini masih terawat dengan baik, bahkan tempat ini masih menjadi tempat produksi minuman sirup yang melegenda itu.

"Dari dulu memang bangunannya seperti ini, nggak ada perubahan. Hanya ada renovasi saja untuk perawatan bangunannya," imbuh Alfin.

 

Reporter: Reiffia S. Dwiyoto

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar