Gulung Tikar 3 Kali Tak Menyurutkan Semangat Perajin di Kampung Tas Gadukan

SURABAYA– Ali Fatkhan (38) merupakan salah satu pengrajin tas yang ada di Kampung Gadukan Baru, Kelurahan Monokrembangan, Surabaya. Ali menjadi generasi ketiga yang masih bertahan di kampung ini, ia meneruskan usaha turun temurun dari keluarganya yang telah merintis usaha ini sejak 1975 silam.

Berawal dari keahliannya yang diperoleh dari orang tuanya dan juga hasil pembinaan pemkot, ia memutuskan untuk memulai usahanya sendiri sejak 7 tahun lalu. Untuk mengembangkan usahanya, diakui Ali tidaklah mudah. Bapak dua anak asal Tulungagung ini bahkan sempat gulung tikar sebanyak tiga kali pada saat memulai usahanya tersebut. 

Pasang surut usaha ia alami selama menjadi pengrajin tas, untuk tetap mempertahankan usahanya ia kini hanya memenuhi permintaan pesanan dari konsumen dalam jumlah banyak. Ia membuat tas sesuai dengan contoh ataupun kebutuhan yang konsumen inginkan saja.

Baca juga: Kampung Tas Gadukan, Pusat Produksi Tas Murah di Surabaya

"Dulu saya membuat model tas mengikuti tren agar tidak tertinggal dengan pabrikan ternama, akhirnya saya memutuskan untuk membuat tas hanya sesuai pesanan saja," terangnya.

Kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu alasannya untuk berpindah haluan, karena harga tas miliknya tergolong murah.

“Di wilayah kami mengambil segmen menengah ke bawah dari kisaran harganya mulai Rp 25 ribu sampai Rp 60 ribu. Bahan dan aksesoris yang digunakan juga lebih tipis,” ungkapnya.

Selain kendala naiknya harga bahan baku, salah satu kendala serius yang dihadapi oleh pengrajin ini adalah terbatasnya jumlah tenaga kerja di bidang produksi.

Kampung tas yang memiliki pekerja dari generasi ke generasi ini kini semakin berkurang bagi penerusnya, karena tidak adanya minat generasi baru untuk meneruskan usaha orang tua mereka.

Baca juga: Rahasia Kampung Tas Gadukan Surabaya yang Tetap Eksis Selama 42 Tahun

Dulu di setiap tempat memiliki sekitar sepuluh pengrajin, namun seiring berjalannya waktu setiap tempat tersebut hanya memiliki tak lebih dari dua pekerja saja. Bahkan, banyak tempat usaha tas yang harus gulung tikar.

“Awalnya saya gemetaran waktu menawarkan tas hasil buatan saya ke toko-toko, dan kurang memerhatikan pengeluaran dan pemasukan, saat ini dari yang awalnya sejumlah 60 perajin kini mulai berkurang sekitar 40 perajin saja di kampung Gadukan ini,” pungkasnya.

Reporter : Arry Dwi Saputra

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar