Kisah Pasutri yang Sukses dengan Eceng Gondok

SURABAYA– Supardi (50) dan Wiwit (50) merupakan pasangan suami istri (pasutri) pengrajin eceng gondok yang sukses mengolah eceng gondok menjadi rupiah. Kedua pasangan ini mampu menyulap tanaman yang sering disebut hama menjadi benda yang bernilai mahal.

Bahkan, karya dari pasutri itu sudah menjadi oleh-oleh yang diberikan Pemkot Surabaya kepada para tamunya dari berbagai negara.

Sebelum menekuni usaha ini, Supardi bekerja serabutan dan ia pernah berjualan tanaman. Menjual tanaman yang musiman ini, membuatnya harus gulung tikar karena banyak jualannya yang tidak laku.

Baca juga: Mengenal Eceng Gondok yang Semakin Mendunia

“Sebelumnya saya pernah jualan tanaman musiman, kayak yang waktu Gelombang Cinta dan lain-lain booming diburu warga. Tapi akhirnya gak laku,” kata Supardi kepada bicarasurabaya.com, Rabu (25/10/2017).

Keahlinya dalam mengolah tanaman tersebut ia peroleh dari pelatihan yang Wiwit ikuti pada tahun 2007 silam. Pelatihan itu digelar oleh Persatuan Istri Polisi dan Abri, istrinya itu belajar banyak di pelatihan itu dan selanjutnya ditularkan kepada suaminya itu.

Setelah mengikuti pelatihan dan mendalami ilmunya mengolah tanaman eceng gondok, ia dan sang istri mulai merintis usahanya ini. Pasangan asal Surabaya ini harus melalui perjalanan panjang untuk mempertahankan usahanya itu.

Hingga akhirnya, Supardi dan Wiwit diajak untuk mempresentasikan produknya di BAPPEKO (Badan perencanaan pembangunan kota). Hasilnya, membuat juri pada waktu itu terkesan dan meminta mereka untuk mengikuti pameran UKM tingkat nasional di Gramedia expo.

Baca juga: Raup Omzet Rp 15 Juta per Bulan dari Eceng Gondok

“Waktu itu saya kaget, orang saya nganyam masih belajar kok disuruh ikut pameran tingkat nasional. Pada waktu itu pihak pemkot memberikan secara cuma-cuma semua fasilitas untuk saya dan istri,” ucapnya.

Berkat ketelatenannya, kini usahanya sudah melalang buana. Seringkali ia ditunjuk sebagai pengisi acara seminar mengenai olahan eceng gondok. Tak jarang tempat workshopnya dibuat skripsi maupun pengabdian masyarakat oleh mahasiswa.

 

Reporter: M ilham Azhari

Editor: M. Syarrafah

 

Tinggalkan Komentar