Lilik Zulfiah, Sosok Dibalik Berdirinya Kampung Bordir Surabaya

SURABAYA- Salah satu sudut di Kota Surabaya, tepatnya di kawasan Jl. Kedung Baruk, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut Surabaya dijuluki sebagai Kampung Bordir. Bukan tanpa alasan kampung ini memiliki julukan Kampung Bordir, melainkan karena terdapat pengrajin bordir yang cukup lama menggeluti dunia jahit dan bordir.

Lilik Zulfiah (37) merupakan pendiri kampung ini, hobinya dalam bidang jahit dan bordir telah ia tekuni sejak lulus dari SMA. Selain itu, ia pernah mengikuti kursus bordir selama 6 bulan hingga akhirnya ia memutuskan untuk terus menekuni ketrampilan ini.

Baca juga: Kampung Bordir Menantang Zaman

“Saya suka jahit dan bordir sudah lama dari lulus SMA, tahun 2002 saya pernah kursus bordir selama 6 bulan,” kata Lilik kepada bicarasurabaya.com, Rabu (26/10/2017).

Pada tahun 2010, ia mengajak para tetangganya untuk menekuni usaha bordir dengan dibantu oleh Disperindag Surabaya. Harapannya, dari program Disperindag ini, ada pelatihan ataupun pembinaan untuk mengembangkan usaha masyarakat khususnya dalam bidang jahit dan bordir.

Jatuh bangun ia alami saat kampung ini dinobatkan sebagai Kampung Bordir. Awal berdiri kampung ini, ia masih memiliki banyak anggota,  namun seiring berjalannya waktu banyak warga yang kurang berminat dalam bidang bordir ini.

Kesulitan ini tak begitu saja membuat Lilik putus asa, ia tetap menjalankan usahanya di tengah berkurangnya minat warga sekitar untuk mengikutinya. Kini, Kampung Bordir tak hanya berada di kawasan Kedung Baruk saja tetapi sudah meluas hingga ke Kecamatan Rungkut.

Berbekal mesin bordir yang diberikan Disperindag ini, ia mampu meraih keuntungan yang menggiurkan. Dalam satu bulan ia mendapatkan omzet sebesar Rp. 5-5,5 juta.

“Lumayan keuntungan dari kerajinan bordir ini, setidaknya dalam satu bulan saya mampu mendapatkan keuntungan Rp 5-5,5 juta,” imbuhnya.

 

Reporter: M ilham Azhari

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar