Profesor Taiwan Berharap Dosen Indonesia Tak Tertipu Jurnal Abal-abal

SURABAYA– Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengadakan International Workshop Potential Publication di Kafe Fastron Lantai 3 Tower Unusa Kampus B Jemursari Surabaya, Kamis (26/10/2017).

Sekitar 100 peserta yang berasal dari perwakilan Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTN) Se Jawa Timur turut serta dalam kegiatan ini.

Prof. Liang-Kuang Chen, Ph.D. National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) Taiwan menuturkan, salah satu Tri Darma Perguruan Tinggi adalah penelitian. Penelitian belum maksimal sebelum dipublikasikan di Jurnal yang resmi.

Dosen yang ada di Indonesia, sebelum memulai publikasi karya tulis ilmiah sebaiknya memahami tentanng jurnal predator atau jurnal abal-abal.

Banyak para peneliti seperti dosen yang masih pemula terutamanya yang baru memasuki dunia karya tulis ilmiah yang menjadi sasaran para jurnal predator atau jurnal abal-abal yang kian meresahkan para peneliti yang ada di dunia. Banyak korban peneliti dari Indonesia dikarenakan kesulitan membedakan ciri-ciri jurnal predator atau ciri-ciri jurnal abal-abal.

“Dosen yang masih baru terjun dalam bidang publikasi jurnal internasional ini lebih baik anda berhati-hati, karena jika anda memasukkan artikel anda ke jurnal predator atau jurnal abal-abal dipastikan artikel anda akan langsung diterima dengan sangat mudah,” kata Prof. Liang-Kuang saat memberikan materinya.

Profesor asal Taiwan ini menambahkan, seorang dosen tentu sudah tahu banyak publisher terkenal yang biasa menerbitkan jurnal berkualitas. Namun, Permasalahan yang kita hadapi adalah dalam memilih mana jurnal yang dibutuhkan.

“Untuk mendapatkan jurnal yang kita inginkan kita tinggal menulis judul atau nama penulis di google. Namun, para dosen harus tahu bahwa tidak semua jurnal yang muncul di Google dapat dipercaya kualitasnya. Ada Jurnal yang perlu kita waspadai yaitu bogus atau predatory journal,” ungkapnya.

Jurnal ini adalah  jurnal berbayar yang isinya tidak dapat dipertanggungjawabkan artinya proses penerimaan tanpa melalui proses review yang benar. Kalau sampai kita mereferensi predatory journal maka bisa dipastikan riset kita tidak akan valid dan gagal total.

Rektor Unusa Achmad Jazidie mengungkapkan sebuah penelitian itu bagus, jika sudah dipublikasikan ke dalam sebuah jurnal yang terakreditasi. Kalau penelitian kita sudah terpublish dalam jurnal-jurnal tertentu dan terakreditasi.

Maka penelitian kita akan mengelinding. Dalam arti akan terus berkembang dan disitasi oleh orang lain. Publikasi akan berguna jika sudah diterapkan atau minimal sudah dipublikasikan.

“Jadi, kalau kita beranggapan bahwa penelitian itu ujungnya prototipe, itu salah besar. Ujung dari penelitian yang terpenting adalah publikasi jurnal atau prosiding seminar yang terindeks,” kata dia dalam sambutannya.

Achmad Jazidie menambahkan, menulis paper adalah kewajiban baut para peneliti. Kita semua harus membuat habituasi atau pembiasaan dalam hal menulis. Kalau jam terbang kita sudah tinggi, maka kita akan terbiasa dalam melakukan penelitian dan publikasi.

“Kita harus menyesuaikan gaya selingkung. Karena dalam sebuah jurnal itu ada kaidahnya atau tatacara penulisannya,” jelasnya.

Reporter: Deny Prastyo

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar