Ni Ayu Galih, Pelukis Muda yang Mewarisi Keahlian Orang Tuanya

SURABAYA-  “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Itu lah kira-kira pribahasa yang pantas untuk menggambarkan sosok Ni Ayu Galih, seniman muda asal Sidoarjo yang seakan-akan mewarisi keahlian melukis orang tuanya yang juga merupakan pelukis senior, Bangun Asmoro.

Mereka berdua merupakan spesialis pelukis bunga. Meskipun, mereka juga selalu menerima pesanan lukisan selain bunga-bunga. Bagi mereka, bunga mencerminkan suara kesenangan atau kegembiraan.

“Filosofi bunga adalah senang, berbunga-bunga. Jadi usaha apapun harus berbunga terus dan orang perempuan pasti seneng bunga,” kata Ayu kepada bicarasurabaya.com di Surabaya, Jumat (27/10/2017).

Ayu mengaku sudah lihai melukis sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), karena dia sangat terinspirasi terhadap lukisan-lukisan ayahnya yang sangat bagus dan penuh filosofi.

Ia pun terus belajar, termasuk teknik yang dianut oleh Ayahnya itu, yakni pisau palet atau seni lukis timbul. “Modelnya hampir sama, tapi aku lebih tipis karena menggunakan cat akrilik,” ujarnya.

Keduanya telah melanglang buana mengikuti berbagai macam pameran. Terakhir, mereka baru saja mengikuti gelar Pasar Seni Lukis Indonesia 2017 yang digelar di JX Internasional Surabaya. Pameran itu diikuti para pelukis yang berasal dari penjuru kota di Indonesia.

Pada acara tersebut, Ayu bersama ayahnya membuka stand bersebelahan, sehingga keduanya nampak akrab. Pada kesempatan itu pula, Ayu mengaku ditawari kontrak kerjasama dengan salah satu galeri yang ada di Jakarta, sehingga membawa berkah tersendiri buat Ayu.

Dibalik keahliannya dalam melukis, Ayu adalah lulusan di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya yang berprestasi di bidang pendidikan. Saat ini dia seorang guru di sebuah SMP Swasta di Sidoarjo. Sungguh anak muda yang luar biasa dan patut dicontoh.

Reporter: Eka Suci R

Editor: M. Syarrafah

 

Tinggalkan Komentar