Meraup Rupiah dari Ban Karet Bekas

SURABAYA - Menyusuri kawasan Kota Tua Surabaya, tepatnya di Jalan Waspada kawasan Pasar Belibis hingga persimpangan menuju Jalan Gula, berjajar barang-barang bekas dan tong sampah dari ban bekas maupun dari besi dan alumunium.

Puluhan pedagang itu terlihat sedang membuat dan menjual tong sampah yang dibuat dari ban bekas itu. Tong sampah itu dibuat dengan berbagai ukuran dan berbagai macam warna. 

Futiha (42), salah satu pedagang yang membuat dan menjual tong sampah berbahan karet ban bekas mengatakan bisnisnya itu sudah dimulai sejak tahun 1996. Wanita kelahiran Madura itu mengawali bisnis itu dengan membuat tempat sampah dari bahan karet ban bekas.

Dengan berjalannya waktu, ia pun terus berinovasi membuat pot, kursi, bak air, timba cor, tali sumur, dan sofa berbahan karet ban bekas. Bahkan, ia juga mulai menerima pesanan dan membayar uang di muka, sehingga usahanya kini semakin berkembang.

"Saya sekarang bikin sendiri, ngecat sendiri. Dulu ada tukang yang bantuin, sekarang sudah usaha sendiri di Madura sana," kata Futiha sambil membuat tong sampah, Sabtu (28/10/2017).

Menurut Futiha, bahan yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan ini tidaklah sulit ditemukan, hanya ban bekas dengan berbagai ukuran dan paku sebagai media menjahitnya, tak lupa juga cat berbagai warna agar menarik mata yang melihat.

"Saya biasanya melukis motif warna aja, campur-campurin warna, kalau gambar gitu sesuai pesanan. Kebetulan ini saya dapat pesanan minta warna biru ada gambar bunganya" imbuhnya.

Satu tong sampah buatanya dijual dengan harga Rp 60 ribu. Apabila membeli borongan atau dengan jumlah yang banyak, harganya bisa dinego tergantung kesepakatan.

Ketika bicarasurabaya.com mengunjungi Futiha, dia tengah mengerjakan pesanan dari salah satu kelurahan di Sidoarjo sebanyak 1280 biji. Bisnisnya ini sudah terkenal, sehingga dia berhasil meraup keuntungan dari usahanya itu.

 

Reporter: M Ilham Azhari

Editor: M. Syarrafah

Tinggalkan Komentar