20 Tahun Betah di Pintu Air Jagir, Kakek ini Istiqomah Jual Alat Pancing

SURABAYA– Pintu Air Jagir yang berada di kawasan Jagir, Wonokromo, Surabaya ini merupakan salah satu bangunan peninggalan zaman Belanda yang berfungsi untuk mengatur debit air dan mengantisipasi banjir.

Selain fungsi tersebut, area pintu air ini kerap menjadi tempat bagi orang-orang yang hobi memancing. Ketika sore hari, selalu ramai oleh orang-orang yang sengaja mencari ikan di sekitar pintu air dan bantaran kali Jagir ini.

Banyaknya orang yang memancing di kawasan pintu air jagir dan sepanjang Sungai Jagir, dimanfaatkan oleh beberapa warga untuk berjualan khusus alat-alat pancing dan kebutuhan untuk memancing. Sepanjang jalan di sisi selatan pintu air ini, mudah ditemukan lapak-lapak tersebut, mulai dari toko-toko ataupun lapak pinggir jalan menggunakan meja ataupun gerobak.

Salah satu pemilik lapak pinggir jalan ini adalah Pano (54). Kakek yang satu ini sudah berjualan dan berjaga di pintu air jagir itu selama 20 tahun. Di pinggir jalan ini ia menjual perlengkapan memancing. Lapak sederhananya dengan gerobak berwarna merah itu, selalu mangkal 24 jam.

“Saya sama istri jualan di sini, alat-alat mancing sama kebutuhan buat mancing saya jual di sini,” terang Pano saat ditemui bicarasurabaya.com, Minggu (28/10/2017).

Pano yang sudah berjualan sejak tahun 1997 ini, menjual beraneka macam alat pancing di lapak sederhananya, seperti pancing, jaring, umpan, senar, kail dan lain-lain. Lumut yang menjadi umpan pancing selalu habis diburu oleh warga yang memancing di kawasan ini.

Satu gelas lumut milik Pano dihargai sebesar Rp 1 ribu saja, dari penjualannya ini setiap harinya ia mampu mendapatkan uang sebesar Rp 60-70 ribu. Namun, dibalik itu Pano mengaku sangat sulit untuk mencari lumut di daerah Surabaya hingga ia harus rela mencari lumut di luar daerah Surabaya.

“Biasanya saya cari lumutnya sampai Bangil, Tulunggangung hingga Kediri karena di Surabaya tidak ada,” ungkap lelaki paruh baya asli Surabaya ini.

 

Reporter: Eka Suci R

Editor: M. Syarrafah

 

 

Tinggalkan Komentar