Agar Hidup Tenang, Latih Rasa Syukur dengan Konsep yang Benar

Orang sering kali mengalami perasaan cemas, tidak pernah merasa puas, hingga menyebabkan depresi, bahkan ketika memiliki banyak harta dan hidupnya tampak sempurna.

Untuk mencegah penyakit-penyakit hati tersebut, kuncinya adalah dengan selalu bersyukur, namun bukan mengartikan konsep bersyukur dengan pamer.

Bersyukur bukan berarti kita mengunggah semua harta kekayaan kita di media sosial dengan dikuti caption yang seolah-olah menunjukan rasa terimakasih kita kepada Sang Pencipta.

Bersyukur juga bukan berarti terlalu fokus untuk melakukan hal positif dan berpura-pura melupakan semua masalah hidup, dan sekadar mengucapkan rasa terima kasih diri sebagai bentuk manipluasi antarpribadi.

Konsep bersyukur yang dimaksud di sini adalah upaya untuk sengaja tak menyia-nyiakan semua hal baik dalam kehidupan.

Manfaat bersyukur

Riset telah membuktikan, banyak bersyukur dapat membuat kondisi mental kita lebih baik,  jika kita mempratikannya secara teratur.

Shawn Anchor, peneliti kebahagiaan dan penulis "The Happines Advantage", mengatakan praktik bersyukur di segala usia dapat meningkatkan energi dan kualitas tidur.

Bersyukur juga dapat mengurangi depresi dan meningkatkan optimisme dalam hubungan sosial, yang merupakan dua faktor terbesar penyebab kebahagiaan.

Menurutnya, kebahagiaan tidak harus bergantung pada gen atau lingkungan kita karena bahagia merupakan pilihan.

Ia juga mengatakan, memikirkan tiga hal yang disyukuri hanya dua menit sehari, atau mengucapkan terimakasih untuk orang lain sekali saja dalam sehari, sama dengan melatih otak untuk menjadi lebih optimis dan positif.

"Dan jika kita mempertahankan polanya, itu sebenarnya memungkinkan kita untuk membuat kebahagiaan menjadi pilihan yang lebih mudah," ucap Achor.

Menurutnya, praktik bersyukur ini dapat membangun otot mental baru yang mendatangkan hal positif.

Pada dasarnya, praktik ini membuat kita tak lagi selalu merasakan hal negatif.

Otak kita berevolusi untuk memiliki bias negatif yang nyata.

Menurut Achor, ini terjadi karena evolusi manusia. Pada masa pra sejarah, kehidupan manusia dalam bahaya dan harus waspada terhadap hal-hal seperti harimau bertaring tajam.

Namun, sistem pendeteksi ancaman ini tidak selalu berfungsi baik untuk manusia modern, di mana otak kita tidak perlu merasa panik ketika merasa tak puas dengan suatu hal.

Pertanyaannya, apakah bersyukur benar-benar membantu kehidupan kita?

Achor bercerita, ketika pertama kali melakukan penelitian ini, dia pikir kebahagiaan mungkin terlalu sulit bagi orang-orang tertentu.

Namun yang mengejutkan, dia menemukan kebahagiaan di setiap lingkungan, dari bangsal perawatan kanker, penjara, hingga zona perang.

 Oleh karena itu, ia berpikir kebahagiaan bisa tetap menjadi pilihan — di mana pun kita hidup di dunia ini.

Cara bersyukur dengan benar

Satu hal yang harus kita perhatikan, bersyukur tidak sama dengan berpuas diri. Berikut rutinitas yang bisa kita praktikan untuk melatih rasa syukur.

1. Pikirkan tiga hal baik

Achor menyarankan kita untuk menyisihkan waktu dua menit sehari untuk memikirkan tiga hal baru yang patut kita syukuri dan alasannya.

Lebih baik lagi, kita tuliskan saja semua hal itu agar bisa kembali melihatnya di akhir minggu.

"Ini akan melatih otak Anda untuk menjadi lebih optimis," ucap Achor.

2. Kirim ucapan terimakasih

Achor menyarankan kita untuk menuliskan email atau pesan berisi pujian dan ucapan terimakasih kepada orang yang berbeda setiap hari.

Namun, tulislah dalam bentuk pesan singkat tanpa terlalu banyak basa-basi. Menurutnya, cara ini dapat mengubah tingkat kebahagiaan dan hubungan sosial kita yang berdampak baik pada kesehatan.

3. Catat semua hal baik

Kapan pun hal baik terjadi, catat di selembar kertas dan simpan dalam wadah khusus.

Saat wadah yang kita gunakan untuk menyimpannya mulai penuh, kita akan menyadari betapa banyaknya hal baik yang telah terjadi dalam hidup kita.

4. Gandakan memori

Pikirkan satu pengalaman positif setiap hari. Ingat hal detail tentang pengalaman itu, seperti apa yang kita kenakan dan apa yang kita katakan.

"Otak Anda pada saat itu menghidupkan kembali pengalaman," kata Achor.

Dengan cara ini, kita bisa "menggandakan" memori itu. Lakukan hal ini selama 21 hari berturut-turut dan kita akan ulai melihat makna hidup kita (intisari).

Tinggalkan Komentar