Kota Malang Diprediksi Macet dalam 10 Tahun ke Depan

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Nurkholis menyatakan 10 hingga 15 tahun lagi Kota Malang akan menjadi kota yang tidak nyaman karena kemacetan yang luar biasa.

"Sampai saat ini saya tidak melihat ada lembaga pemerintah yang berani mengeluarkan regulasi pembatasan jumlah kendaraan, termasuk di Kota Malang. Bahkan, meningkatnya jumlah kendaraan tidak berbanding lurus dengan meningkatnya ruas jalan," kata Nurkholis di sela Dialog Publik dengan tema "Kota Malang Darurat Infrastruktur Ekonomi" di FEB UB Malang, Selasa (30/4)

Jika kondisi ini terus dibiarkan, kata Nurkholis, ancaman kemacetan parah akan benar-benar terjadi dan kondisi itu membuat kota pendidikan tersebut menjadi tidak nyaman. Oleh sebab itu, pembangunan infrastruktur jalan, jembatan maupun transportasi masal sangat diperlukan.

Salah satu alternatif yang bisa mengurai kemacetan di tengah kota adalah jalan lingkar yang bersinergi dan tersambung dengan wilayah Kota batu dan Kabupaten Malang. Selain itu, transportasi masal yang nyaman juga bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

"Dan, setiap pembangunan infrastruktur selalu memberikan dampak perekonomian bagi masyarakat sekitar. Ada tiga penggerak ekonomi di Indonesia, yakni pembangunan infrastruktur, konsumsi masyarakat, dan yang ketiga investasi," ucapnya.

Hanya saja, kata Nurkholis, jangan sampai pertumbuhan infrastruktur tidak dibarengi pertumbuhan ekonomi. Pembangunan infrastruktur seharusnya menciptakan lapangan kerja, menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan.

"Apalagi Kota Malang ini merupakan kota yang sudah mapan, namun yang kami perlukan sekarang adanya akselerasi kinerja yang mengalami lompatan agar perekonomian bisa tumbuh pesat, dipicu sektor pendidikan dan pariwisata, sehingga kota ini harus dibuat nyaman," paparnya.

Wali Kota Malang Sutiaji mengemukakan, jumlah kendaraan di Kota Malang terus bertambah sejak 2012. Pada 2012, jumlah kendaraan mencapai 858.666 unit. Pada 2013 meningkat menjadi 895.556 unit, pada 2014 bertambah menjadi 898.556 unit, dan 2015 menjadi 943.156 unit, serta 1.045.380 pada 2016.

"Terus bertambahnya jumlah kendaraan di Kota Malang, sementara ruas jalan tidak bertambah, tidak menutup kemungkinan Kota Malang menjadi kota termacet kedua setelah Jakarta. Apalagi, dalam waktu dekat ini akan ada jalur keluar tol, sementara Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Tanah Air terus berbenah dan mengurangi tingkat kemacetan," katanya (Ant).

 

Tinggalkan Komentar